Mei 7, 2025

Iskaposmeatmarket : Retribusi Pasar Tradisional

Lonjakan Biaya Pasar Di Indonesia

2025-05-03 | admin3

5 Pasar di Jakarta yang Dulu Ramai Kini Sepi Pengunjung

Jakarta dikenal sebagai kota metropolitan dengan berbagai pusat perbelanjaan, mulai dari mal modern hingga pasar tradisional. Namun, dalam dua dekade terakhir, pasar-pasar tradisional di Jakarta mengalami penurunan pengunjung yang signifikan. Pergeseran gaya hidup, kemunculan e-commerce, dan bertambahnya mal modern turut memengaruhi eksistensi pasar-pasar yang dulu menjadi pusat ekonomi rakyat.

Berikut adalah 5 pasar di Jakarta yang dulu ramai, kini sepi:


1. Pasar Senen

Dulu, Pasar Senen adalah pusat belanja utama di Jakarta Pusat, terutama untuk pakaian bekas dan barang murah. Di masa jayanya, ribuan orang memadati lorong-lorong pasar setiap hari. Namun setelah kebakaran besar dan relokasi pedagang, aktivitas Pasar Senen mulai menurun. Masyarakat kini lebih memilih belanja online atau ke pusat perbelanjaan yang lebih nyaman.


2. Pasar Tanah Abang Blok G

Tanah Abang dikenal sebagai pusat grosir tekstil terbesar di Asia Tenggara. Namun, Blok G mengalami penurunan drastis dalam beberapa tahun terakhir. Sejak revitalisasi pasar dan perubahan jalur distribusi dagang, banyak kios kosong dan pengunjung rajazeus berkurang. Faktor lain adalah kemacetan dan kurangnya kenyamanan akses.


3. Pasar Jatinegara

Dulu, pasar ini ramai dengan penjual kebutuhan rumah tangga, elektronik, hingga hewan peliharaan. Kini, keberadaan toko online dan gerai modern di sekitar membuat Pasar Jatinegara kehilangan daya saing. Banyak kios tutup dan pengunjung datang hanya saat hari-hari besar seperti Lebaran.


4. Pasar Glodok Lama

Sebagai pusat elektronik dan pernak-pernik Tionghoa, Pasar Glodok dulunya selalu padat pengunjung, apalagi menjelang Imlek. Namun sekarang, geliatnya mulai meredup. Selain karena perubahan pola belanja masyarakat ke toko online, banyak kios elektronik kini pindah ke pusat perbelanjaan modern yang lebih nyaman dan bersih.


5. Pasar Rumput (Sebelum Direvitalisasi)

Sebelum direnovasi menjadi pasar modern dan rumah susun terpadu, Pasar Rumput pernah menjadi salah satu pasar legendaris di Jakarta Selatan. Namun dalam beberapa tahun sebelum revitalisasi, aktivitas pasar ini nyaris berhenti. Kebersihan yang kurang, akses yang sempit, dan minimnya fasilitas membuat pembeli enggan datang. Kini setelah direnovasi, pengunjung mulai berdatangan, namun belum bisa menyamai keramaian masa lalu.

BACA JUGA: Investasi di Pasar China: Prospek dan Risiko yang Perlu Diketahui

Share: Facebook Twitter Linkedin
Investasi di Pasar China
2025-05-02 | admin5

Investasi di Pasar China: Prospek dan Risiko yang Perlu Diketahui

China telah menjadi salah satu kekuatan raja zeus ekonomi terbesar di dunia, dengan pertumbuhan yang pesat selama beberapa dekade terakhir. Sebagai pasar dengan lebih dari 1,4 miliar penduduk, China menawarkan peluang investasi yang sangat besar, mulai dari sektor teknologi, manufaktur, properti, hingga pasar keuangan. Namun, di balik potensi keuntungan yang menggiurkan, terdapat juga berbagai risiko yang perlu diperhatikan, seperti regulasi pemerintah, ketidakpastian geopolitik, dan fluktuasi ekonomi. Artikel ini akan membahas secara mendalam prospek investasi di pasar China serta risiko-risiko utama yang harus diwaspadai oleh investor, baik lokal maupun asing.

1. Prospek Investasi di Pasar China

A. Pertumbuhan Ekonomi yang Stabil

China merupakan ekonomi terbesar kedua di dunia setelah AS, dengan PDB mencapai $17,7 triliun (2023). Meskipun pertumbuhannya melambat dibanding era 2000-an, China masih mencatat pertumbuhan sekitar 5% per tahun, lebih tinggi daripada banyak negara maju.

Faktor pendukung pertumbuhan China:

  • Konsumsi domestik yang kuat (kelas menengah mencapai 400 juta orang).

  • Infrastruktur dan urbanisasi yang terus berkembang.

  • Inovasi teknologi (seperti 5G, AI, dan EV).

B. Pasar Digital dan E-Commerce yang Besar

China adalah rumah bagi raksasa teknologi seperti Alibaba, Tencent, dan ByteDance (TikTok). Pasar e-commerce China bernilai $2,3 triliun (2023), terbesar di dunia.

Peluang investasi di sektor digital:

  • Live streaming commerce (seperti Douyin/TikTok Shop).

  • Fintech dan pembayaran digital (Alipay, WeChat Pay).

  • Cloud computing dan AI.

C. Sektor Manufaktur dan Ekspor yang Dominan

China adalah “pabrik dunia”, menyumbang 28% produksi manufaktur global. Investor bisa memanfaatkan:

  • Industrial parks di Shenzhen, Shanghai, dan Zhejiang.

  • Rantai pasok yang lengkap untuk elektronik, otomotif, dan tekstil.

  • Kebijakan insentif untuk industri high-tech.

D. Pasar Modal yang Berkembang

Bursa saham China (Shanghai, Shenzhen, Hong Kong) semakin terbuka untuk investor asing. Beberapa peluang:

  • A-shares (saham perusahaan domestik China).

  • Hong Kong Stock Exchange (gerbang investasi asing).

  • Obligasi korporasi dan pemerintah dengan imbal hasil menarik.

2. Risiko Investasi di Pasar China

A. Regulasi Pemerintah yang Ketat

Pemerintah China sering mengeluarkan kebijakan yang bisa berdampak besar pada bisnis, seperti:

  • Pembatasan di sektor teknologi (contoh: crackdown pada Alibaba & Didi 2021).

  • Kontrol ketat atas data dan internet (Great Firewall, UU Keamanan Data).

  • Perubahan aturan FDI (Foreign Direct Investment) yang bisa membatasi kepemilikan asing.

B. Ketegangan Geopolitik

Hubungan China dengan AS dan Eropa sering memicu ketidakpastian:

  • Perang Dagang AS-China (tarif impor, pembatasan ekspor chip).

  • Sanksi terhadap perusahaan China (Huawei, SMIC).

  • Risiko delisting saham China dari bursa AS (karena audit yang ketat).

C. Gelembung Properti dan Utang

Sektor properti China (30% PDB) pernah mengalami krisis besar dengan kebangkrutan Evergrande (2021) dan Country Garden (2023). Masalah utama:

  • Utang developer yang tinggi.

  • Penjualan properti melambat karena penurunan kepercayaan.

  • Kebijakan pemerintah yang berubah-ubah.

D. Fluktuasi Mata Uang dan Kontrol Modal

China membatasi aliran keluar mata uang asing (capital control), sehingga:

  • Kesulitan repatriasi keuntungan bagi investor asing.

  • Risiko devaluasi Yuan yang mempengaruhi return investasi.

3. Strategi Investasi yang Aman di China

A. Diversifikasi Portofolio

  • Gabungkan investasi di saham, obligasi, dan sektor riil.

  • Manfaatkan ETF dan reksa dana yang fokus pada China.

B. Memahami Regulasi dan Kebijakan

  • Pantau perubahan hukum melalui sumber resmi seperti MOFCOM (Kementerian Perdagangan China).

  • Gunakan konsultan lokal untuk izin bisnis dan pajak.

C. Fokus pada Sektor yang Didukung Pemerintah

  • Energi terbarukan (solar panel, EV).

  • Semikonduktor dan teknologi mandiri.

  • Kesehatan dan bioteknologi.

D. Gunakan Hong Kong sebagai Pintu Masuk

  • Bursa Hong Kong (HKEX) lebih terbuka untuk modal asing.

  • Fasilitas Stock Connect memudahkan investasi di saham China.

Kesimpulan

BACA JUGA: 10 Pasar Tradisional Terbelakang di Purwakarta

Investasi di pasar China menawarkan peluang besar tetapi juga risiko yang signifikan. Dengan pertumbuhan ekonomi yang stabil, pasar digital yang masif, dan infrastruktur yang kuat, China tetap menjadi destinasi utama bagi investor global. Namun, regulasi ketat, ketegangan geopolitik, dan gelembung properti harus diwaspadai.

Strategi terbaik adalah melakukan riset mendalam, diversifikasi, dan bermitra dengan ahli lokal untuk meminimalkan risiko. Bagi investor yang cermat, China masih menjadi salah satu pasar paling menarik di dunia.

Share: Facebook Twitter Linkedin